Kamis, 06 Juli 2017

SHALAT

SHALAT
Ketahuilah olehmu bahwa shalat itu ada dua bagian; yaitu shalat zahir dan shalat batin.
Adapun tata cara shalat zahir itu ada 7 perkara :
1. Mengetahui syarat wajib shalat
Syarat wajib shalat 4 perkara, yaitu Islam, baligh, berakal, suci dari haid dan nifas;
2. Mengetahui syarat shah shalat;
Syarat shahnya shalat 9 perkara, yaitu Islam, Mumayyiz, Mengenal fardhunya, Membedakan fardhu dari pada sunat, Mengenal masuk waktu dengan yakin atau zhan, Menghadap kiblat dengan yakin atau zhan, menutup aurat, Suci badan dari hadats besar/kecil, Suci badan dan pakaian/kain serta tempat shalat dari najis yang tidak dimaafkan;
3. Mengetahui rukun shalat;
Rukun Shalat ada 13 perkara : 1. Niat; 2. Takbiratul Ihram; 3. Berdiri betul; 4. Membaca Fatihah; 5. Ruku' beserta thuma'ninah; 6. I'tidal beserta thuma'ninah; 7. Sujud beserta thuma'ninah; 8. Duduk antara dua sujud beserta thuma'ninah; 9. Duduk tahiyyat akhir; 10. Membaca Tahiyyat akhir; 11. Membaca Shalawat atas Nabi saw dalam tahiyyat akhir; 12. Mengucapkan salam pertama sambil menoleh ke arah kanan; 13. Tertib.
Rukun 13 ini terbagi kepada tiga bagian, yaitu :
a. Rukun Qalbiy, (yang ta'alluq dengan hati), yaitu niat;
Adapun niat yang wajib dalam shalat ada 3 perkara, yaitu Qashad, (menyenghaja perbuatan shalat), Ta'arrudh, (meniatkan fardhu, Ta'yiin, (menentukan waktu yang diperbuat);
Adapun niat yang sunat dalam shalat ada 4 perkara, yaitu meniatkan bilangan rakaat, meniatkan menghadap kiblat, meniatkan tunai pada shalat tunai, meniatkan karena Allah;
Niat wajib dimuqaranahkan beserta takbiratul ihram dengan salah satu dari dua muqaranah, yaitu muqaranah 'urfiyah dan kamaliah;
'Urfiyah :
1) استحضار عرفيّ (menghadirkan zat shalat pada 'urf, artinya pengenalan manusia dahulu sedikit daripada takbiratul ihram seperti bahwa dihadirkan zat shalat yang ia fardhu zuhur umpamanya dengan jumlah yakni dipandangnya dengan mata hatinya bahwasanya shalat zuhur itu permulaan takbiratul ihram dan kesudahannya salam;
2) مقارنة عرفية , (menyertakan niat didalam takbiratul ihram pada urf sekira-kira terkandung niat itu didalam huruf takbiratul ihram yang 8 sama ada pada permulaannya atau pertengahannya atau akhirnya yakni terkandung niat itu didalam antara alif Allah dan ra akbar;
Kamaliyah :
1) استحضار حقيقيّ (menghadirkan zat shalat yang sebenar-benarnya terdahulu sedikit daripada takbiratul ihram seperti bahwa dihadirkan zat shalat satu-satunya daripada segala rukun tiap-tiap rakaat secara terperinci yakni dipandangnya dengan mata hatinya sekalian rukun dalam tiap-tiap rakaat serta hadir semuanya didalam pendangannya;
2) مقارنة حقيقيّة , (menyertakan niat didalam takbiratul ihram yang sebenar-benarnya sekira-kira bersamaan permulaan takbiratul ihram dengan permulaan niat dengan tidak terdahulu dan terkemudian dan tiada kosong;
b. Rukun Qauliy, (yang ta'alluq dengan perkataan lidah), yaitu Takbiratul Ihram, Fatihah, Tahiyyat akhir, Shalawat kepada Nabi saw dalam tahiyyat akhir dan salam pertama;
c. Rukun Fi'liy, (yang ta'alluq dengan perbuatan anggota), yaitu Berdiri betul, Ruku beserta thuma'ninah, I'tidal beserta thuma'ninah, Sujud beserta thuma'ninah, Duduk antara dua sujud beserta thuma'ninah, Duduk tahiyyat akhir, dan Tertib;
4. Mengetahui sunat ab'adh shalat;
Sunnat ab'at dalam shalat, yaitu do'a qunut, shalawat atas Nabi saw dan keluarga beliau dalam qunut, tahiyyat awal, shalawat atas Nabi saw dalam tahiyyat awal, shalawat atas keluarga nabi saw dalam tahiyyat akhir;
5. Mengetahui sunat haiy’at shalat;
Sunat hai'at dalam shalat, yaitu azan dan iqamat, melafazkan niat, mengangkat dua tangan ketika takbiratul ihram dan menaruhnya kedada, membaca do'a iftitah, membaca ta'awuz, membaca surat setelah fatihah pada rakaat pertama dan kedua, bacaan-bacaan dalam ruku', i'tidal, sujud dan duduk antara dua sujud, do'a dalam tahiyyat akhir, duduk iftiras, duduk tawarru', salam yang kedua sambil menoleh ke arah kiri, dan lain-lainnya;
6. Mengetahui makruh shalat;
Yang makruh dalam shalat amat banyak, diantaranya menginginkan makanan yang hadir, bersandar pada dinding atau tiang, mendahulukan sebelah kaki, menutup dua tapak tangan ketika takbir, shalat dalam kamar mandi/kakus, memalingkan muka kekiri kekanan, menyertai makmum akan perbuatan imam, jahar menguatkan bacaan dibelakang imam, shalat dijalan raya, tempat menyembelih binatang, di kubur yang suci, shalat dikala mau tidur, menahan buang hajat atau kentut, menyapu muka dari debu, mengeraskan suara ketika dipelankan atau sebaliknya, memberatkan pinggang, menguap, shalat tergesak-gesak/cepat-cepat, berdiri kaki satu, merapatkan dua kaki ketika berdiri, mengangkat kepala atau terlalu tunduk ketika ruku', meninggalkan bacaan/perbuatan sunat dalam shalat, membalikkan telapak tangan ketika salam, dan sebagainya;
7. mengetahui yang membatalkan shalat;
Yang membatalkan shalat 15 perkara, yaitu kedatangan hadats, kejatuhan najis yang tidak dimaafkan, terbuka aurat, berpaling dada dari kiblat, makan dan minum dengan sengaja, berkata-kata yang disengaja walaupun satu atau dua huruf yang memberi faham, memutuskan niat, menggantungkan memutuskan niat dengan sesuatu, memutuskan rukun sebelum menyempurnakannya, memperbuat perbuatan yang banyak pada 'urf seperti melompat yang keji dan bergerak-gerak atau memukul-mukul atau melangkah tiga kali berturut-turut, berdaham-daham atau tertawa atau menangis yang keluar suara, menambah rukun, mengiktikadkan suatu rukun dari rukun shalat itu sunat, murtad dan memindahkan rukun fi'liy;
Adapun tata cara shalat bathin itu ada 3 perkara :
1. Mengetahui yang menyempurnakan syarat dan rukun shalat;
2. Mengetahui dan mengiktiqadkan rahasia tiap-tiap rukun shalat;
3. Bersungguh-sungguh mengiktiqadkan hakikat dan rahasia dalam shalat;
MENGETAHUI YANG MENYEMPURNAKAN SYARAT DAN RUKUN SHALAT
Adapun yang pertama tersebut dalam kitab Tanbihul Ghafiliin, bahwa dalam shalat ada 12000 perkara, kemudian dihimpun menjadi 12 perkara, maka barang siapa menghendaki shalat, mesti bersungguh-sungguh memelihara yang 12 perkara ini agar sempurna shalatnya :
1. Ada ilmu, karena Rasul bersabda, عَمَلٌ قليلٌ فى علمٍ خيرٌ من عملٍ كثيرٍ فى جهلٍ Amal yang sedikit beserta ilmu lebih baik dari amal yang banyak tidak berilmu;
Kesempurnaan ilmu ada 3 perkara : 1. mengenal/mengetahui yang fardhu dan sunat dalam shalat; 2. mengenal/mengetahui tentang adanya wudhu untuk shalat fardhu dan shalat sunnat; 3. mengenal/mengetahui akan tipu daya syaithan, maka bersungguh-sungguhlah memerangi/mengusirnya;
2. Berwudhu (bersuci), Sabda Rasul لاصلاة إلا بطُهور Tidak shah shalat kecuali suci dari hadas dan najis;
Kesempurnaan wudhu ada 3 perkara : 1. sucikan hati dari tipu daya; seperti sifat dengki, khiyanat dan lain-lain; 2. sucikan badan dari dosa; 3. membasuh anggota wudhu dengan sempurna, dengan tidak berlebih-lebihan memakai air;
3. Pakaian, Firman Allah خذوا زينتكم عند كل مسجد pakailah pakaianmu pada tiap-tiap shalat;
Kesempurnaan pakaian ada 3 perkara : 1. asalnya daripada harta yang halal; 2. suci dari najis; 3. sesuai dengan sunah rasul, jangan memakai pakaian itu untuk bermegah dan takabur;
4. Memelihara waktu,firmn Allah ان الصلاة كانت علىالمؤمنين كتابا موقوتا
Kesempurnaannya ada 3 perkara : 1. memandang/melihat matahari, bulan atau bintang, agar dapat diketahui masuknya waktu shalat; 2. mendengar azan; 3. hati memikirkan dan memelihara waktu shalat;
5. menghadap kiblat, firman Allah فول وجهك شطر المسجد الحرام .... ;
Kesempurnaannya ada 3: 1. Hadapkan muka dan dada ke kiblat; 2.Hadapkan hati kepada Allah; 3. Khusuk dan menghinakan diri;
6. Niat, sabda Rasul انما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى ;
Kesempurnaan niat 3 perkara : 1. Harus diketahui shalat apa yang akan dikerjakan; 2. Harus diketahui dan disadari waktu berdiri shalat itu adalah di hadapan Allah, dan Allah menyaksikan dan memandang orang shalat, oleh itu harus berdiri itu dengan perasaan hibah; 3. Harus disadari bahwa Allah Maha Mengetahui sesuatu yang ada dalam hati, oleh itu kosongkan hati itu dari segala pekerjaan dunia;
7. Takbiratul Ihram, sabda Rasul تحريمها التكبير وتحليلها التسليم ;
Kesempurnaannya ada 3 perkara; 1. Takbirlah dengan takbir yang shah dan jazam; 2. Angkat 2 tangan berbetulan dengan 2 telinga; 3. Hadirkan hati dengan Allah, maka takbir itu adalah membesarkan Allah;
8. Berdiri, Firman Allah وقوموا لله قانتين ;
Kesempurnaannya 3 perkara : 1. Jadikan pandangan mata pada tempat sujud; 2. Jadikan hati beserta Allah; 3. jangan berpaling ke kanan atau ke kiri;
9. Membaca Fatihah, firman Allah فاقرئوا ماتيسر من القرآن ;
Kesempurnaannya 3 perkara; 1. membaca fatihah dengan bacaan yang shah lagi tartil, jangan lahan; 2. Membacanya dengan tafkir akan maknanya; 3. Harus dapat mengamalkan apa yang dibaca tsb;
10. Ruku', firman Allah واركعوا مع الراكعين ;
Kesempurnaannya 3 perkara : 1. Ratakan belakangmu, jangan ditundukkan dan jangan ditinggikan; 2. Hantarkan kedua telapak tangan ke atas dua lutut, dan hunjurkan jemari ke kiblat dengan membujur ke arah betis; 3. Tuma'ninah dalam rukuk dan membaca tasbih serta ta'zim dan tetap pada Allah;
11. Sujud, firman Allah واسجدوا لله واعبدوا ;
Kesempurnaannya 3 perkara : 1. sujud dengan anggota 7, hantarkan dua tangan berbetulan bahu; 2. jangan dihamparkan hasta; 3. Tuma'ninah dalam sujud dan membaca tasbih serta ta'zim dan tetap pada Allah;
12. Duduk, sabda Rasul اذا رفع الرجل رأسه من آخر السجدة وقعد قدر التشهد فقد تمت صلاته ;
Apabila keduabelas ini dapat dilaksanakan, dan ditambah pada penutupnya dengan ikhlas agar sempurna semua perkara itu, karena firman Allah فاعبدوا الله مخلصين له الدين ;
Kesempunaan duduk ada 3 perkara ; 1. duduk diatas kaki kiri, dan mendirikan kaki kanan; 2. Baca tahiyyat dengan ta'zim dan berdo'a untuk diri sendiri dan untuk sekalian mukmin; 3. memberi salam dengan sempurna;
Kesempurnaan salam 3 perkara : 1. Salam beserta berniat yang benar pada hati; 2. Salam itu untuk mereka yang ada di kanan dan di kiri dari malaikat hafazah, jin dan manusia yang Islam; 3. jangan melebihi pandangan dari pada bahu;
Adapun kesempurnaan ikhlas ada 3 perkara : 1. yang dituntut dengan shalat itu adalah ridha Allah bukan menuntut ridha manusia; 2. harus diketahui taufiq itu dari Allah; 3. bahwa engkau peliharakan akan shalatmu dan engkau kekalkan akan dia hingga hilang ia serta dirimu dengan matimu;
MENGETAHUI DAN MENGI'TIQADKAN RAHASIA TIAP-TIAP RUKUN SHALAT
1. Apabila telah terdengar suara azan, maka hadirkan hati kepada haru hara dan seruan pada hari kiyamat, dan bersegera dengan zahir dan batin untuk memperkenankan panggilan azan tersebut dan bersegera mendirikan shalat, karena bersegera memperkenankan seruan azan tersebut, adalah pertanda diseru/dipanggil pada hari kiyamat dengan seruan yang lemah lembut. Maka oleh karena itu perkenankanlah seruan tersebut dengan datang beserta hati yang penuh kegembiraan dan kesukacitaan, agar di hari kiyamat nanti diseru dengan kebaikan dan kelembutan.
2. Apabila datang ke tempat bersuci/wudhu untuk menghilangkan hadas, maka jangan lupa dengan menyucikan hati dari penyakit-penyakitnya dengan bertaubat dan menyesal atas kekurangan ibadah kepada Allah;
3. Menutup aurat, yaitu dengan menutupi badan zahir dari hal-hal yang keji/tidak wajar dipandang makhluk dengan pakaian yang sesuai dengan ketentuan syara', dan menutupi aurat batin dari hal-hal yang keji/tidak wajar dipandang oleh Allah dengan membayangkan/ menghadirkan kejahatan-kejahatan batin dalam hati dan menutupinya dengan penyesalan, rasa malu dan takut kepada Allah;
4. Menghadap kiblat, yaitu menghadapkan muka dan dada zahir ke arah Baitullah/Ka'bah, dan ketika itu pula muka hati dan muka zahir berhadap kepada Allah, tidak kepada arah yang lainnya selain Baitullah, dan tidak menghadap selain hadapan Allah;
5. Berdiri betul, yaitu merupakan berdirinya zat diri kita dihadapan Allah, maka hendaklah tundukan kepala dan menjaga hati dengan tawadhu' dan menghinakan diri serta melepaskan diri dari takabur, takutlah ketika didirikan di hadhirat Allah pada hari kiyamat dan ketika ditanya tentang amal perbuatan yaumil hisab;
6. Niat, hendaklah berniat untuk memperkenankan dan menyanjung titah Allah dengan menyempurnakan shalat dan menjauhi dari yang membatalkannya, ikhlas karena Allah, mengharapkan pahala (ridhaNya), takut akan siksa dan murka Allah, dan menuntut taqarrub kepada Allah;
7. Takbiratul Ihram, ketika mulut mengucapkan الله اكبر , hati membesarkan Allah, tidak ada yang lebih besar dari Allah, jangan didustakan karena bila ada yang lebih besar dari Allah maka kita berdusta dengan apa yang telah diucapkan mulut tadi, dan Allah menyaksikan dusta yang kita lakukan;
8. Baca do'a Iftitah, ketika membaca وجهت وجهي للذى فطر السماوات والأرض, (aku hadapkan mukaku bagi Tuhan yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi), yang dimaksud dengan muka adalah muka hati, ketika itu muka hati selalu berhadap/musyahadah kepada Allah yang menjadikan langit dan bumi, janganlah muka hati menilik kepada dunia (rumah, pasar dan lain-lainnya yang mengikat syuhud hati). Ketika membaca حنيفا مسلماً, (hal keadaanku condrong kepada agama yang sebenarnya lagi Islam), maka ketika itu hendaklah terlintas dalam hati bahwa orang Islam harus selamat dari kejahatan lidah dan tingkah lakunya, jika tidak, maka dustalah dia. Ketika membaca وما أنا من المشركين, (dan tidak aku dari orang syirik), maka fikirkan dalam hati tentang syirik khafi dan takut terhadapnya. Ketika membaca ان صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين، لاشريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين , (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya bagi Allah Tuhan yang memiliki sekalian alam, tiada sekutu bagiNya, dan dengan yang demikian itu diperintah aku dan aku dari pada orang Islam), maka ketika itu ketahuilah bahwa seperti inilah keadaan orang yang fana bagi dirinya dan maujud dengan Tuhannya;
9. Membaca أعوذ بلله من الشيطان الرجيم , (Aku berlindung dengan Allah dari syaithan yang kena rajam), ketika itu ketahui olehmu bahwa syaithan musuhmu dan selalu mengintai untuk memalingkan hatimu dari Allah karena ia dengki dengan kamu atas munajatmu serta Allah dan sujudmu bagiNya. Ketahuilah bahwa sebagian dari tipu daya syaithan adalah membimbangkanmu dalam shalatmu dengan mengingatkan hari akhirat dan membicarakan memperbuat kebajikan supaya melengahkanmu dari memahami sesuatu yang kamu baca, ketahuilah bahwa tiap-tiap yang membimbangkan dari memahami makna bacaan adalah waswas namanya, tiap-tiap waswas itu syaithan, karena gerak lidah itu tidak dimaksud tetapi yang dimaksud itu maknanya. Apabila dikata بسم الله الرحمن الرحيم , (Dengan nama Allah yang amat Murah lagi yang amat Mengasihi), ketika itu niatkan olehmu akan mengambil barakah memulai Kalam Allah dan fahamkan olehmu bahwa maknanya itu sekalian pekerjaan dunia dan akhirat tertentu bagi Allah dan maksud dengan Nama disini yaitu Zat yang mempunyai Nama. Apabila anda kata الحمدلله رب العالمين , (segala puji bagi Allah Tuhan yang memiliki sekalian alam), maka ketika itu anda nyatakan akan syukur pada segala nikmat Allah. Dan apabila anda kata الرحمن الرحيم , (Tuhan yang amat Murah lagi yang amat Mengasihi), maka hadhirkan dalam hatimu ketika itu akan segala bagi Rahmat Allah atasmu daripada Rahmat dunia dan Rahmat Agama, maka datangkan dalam hatimu syukur dan ta'zim bagi Allah. Apabila anda kata مالك يوم الدين , (Tuhan yang memiliki hari agama), maka ketika itu takut olehmu akan Allah dari haru hara kiyamat, hisab, timbangan, dan lainnya, karena Allah yang mempunyai kerajaan hari itu sendiriannya. Apabila anda kata إياك نعبد (hanya kepada Engkau jua kami menyembah), hadirkan dalam hatimu ketika itu Ikhlas ibadahmu karena Allah. Apabila anda kata وإياك يستعين (dan hanya kepada Engkau jua kami minta tolong), hadirkan dalam hatimu akan lemahmu dan hajatmu dan melepaskan diri daripada daya dan upaya dari berbuat taat. Kemudian tuntut olehmu akan hajatmu yang dan maksudmu yang paling benar pada agama dengan ucapanmu اهدنا الصراط المستقيم ، صراد الذين أنعمت عليهم غير المغضوت عليهم ولا الضآلين (Ya Tuhan, tunjuki olehMu akan kami agama yang sebenarnya, yaitu jalan agama mereka yang telah Engkau beri nikmat atas mereka daripada anbiya, shiddiqiin, syuhada dan shalihiin, bukan jalan agama mereka yang dimurkai atas mereka itu seperti Yahudi dan bukan pula jalan agama mereka yang sesat seperti Nasrani. Kemudian anda mohonkan akan dirimu hajatmu dengan mengata آمين (perkenankanlah olehMu ya Tuhanku).
10. Ruku' dan Sujud, maka ketika itu anda sebut kebesaran Allah (bertasbih, ta'zim, a'la dan tahmid), kemudian anda angkat kedua tangan, hal keadaanmu berlindung dengan kemaafan Allah dari siksaNya dan adapun anda tetap di dalam berdiri membaca Fatihah dan surah lainnya, maka yaitu menjaga atas hadir dan tetap hati beserta Allah atas sifat yang satu yaitu hudur;
11. Tahiyyat, apabila anda duduk untuk Allah, maka duduklah dengan beradab sebagai pengormatan kepada Allah, dan hadirkan dalam hati anda zat Nabi saw, kemudian bicarakan olehmu bahwa Allah memulangkan ia atasmu akan salam yang sempurna dengan semua hamba Allah yang shalih, kemudian bersaksi bagi Allah dengan wahdaniyat dan bagi Nabi saw dengan risalah, kemudian bershalawat kepada Nabi saw, dan berdo'a pada akhir shalat dengan do'a yang warid, serta tawaddu' dan khusyu' dan benar dan berharap dengan diperkenankan dan ikutkan dalam do'amu akan kedua ibu bapamu, dan sekalian orang Islam, dan qasadkan ketika salam itu memberi salam kepada malaikat, manusia dan jin yang Islam, dan niatkan dengan salam itu menyudahi shalat dan niatkan dalam hatimu syukur kepada Allah atas taufiqNya bagi menyempurnakan taat ini dan anda kira/sangka bahwa inilah shalatmu yang terakhir, barangkali umurmu tidak sampai lagi pada shalat yang akan datang, dan takutlah anda kalau-kalau shalat anda ini tidak diterima Allah, sehingga anda mendapat murka Allah lahir dan batin dan dilemparkanNya shalat ini ke mukamu, selanjutnya anda berharap agar shalat ini diterima oleh Allah dengan keramahan dan karuniaNya. Dan adalah sebagian ahli tasauf berhenti kemudian dari shalatnya beberapa saat seolah-olah ia sakit;
12. Setelah salam, hendaklah menaruh tangan kanan pada ubun-ubun dan mengata بسم الذى لاإله إلا هو الرحمنُ الرحيمُ اللهم اذهبْ عنّيَ الهمَّ والحزنَ selanjutnya berwirid sebagaimana biasa, dan berdo'a;
13. Kemudian daripada itu hendaklah mengamalkan tafakkur, sabda Nabi saw : تفكر ساعة خير من عبادة ستين سنة (Tafakkur sesaat lebih baik dari beribadah (sunat) 60 tahun), dengan cara bahwa dibaca dua kalimah syahadat dengan perlahan serta hadirkan maknanya, kemudian lakukan 'Ibrah, yaitu mencari-cari kesalahan diri dan menyesal dari perbuatan tersebut dan mencita-cita tidak akan mengerjakannya lagi. Kemudian Khauf, yaitu takut akan murka dan siksa Allah dan takut akan tidak diterima amalnya. Kemudian Raja, yaitu besar harapan akan rahmat Allah, ampunan-Nya dan harap akan diterima semua amalnya, selanjutnya baca 5 asma ini masing-masing sekali, Allah Hayyun Qayyum Daim Baqy (Allah Zat yang wajib ada, Allah Zat yang hidup, Allah Zat yang berdiri sendiri, Allah Zat yang senantiasa, Allah Zat yang kekal).
BERSUNGGUH-SUNGGUH MENGI'TIKADKAN HAKIKAT DAN RAHASIA DALAM SHALAT
Hal ini sangat banyak, sekurang-kurangnya 11 perkara :
1. Khusyu', artinya tetap anggota daripada gerakan yang sia-sia dan tetap hati menghadap kepada Allah. Menurut pendapat fuqaha, khusyu' merupakan syarat bagi kesempurnaan pahala shalat, sedangkan menurut ulama tasauf, khusyu' merupakan syarat bagi shahnya shalat, karena firman Allah لاصلاة إلا على الخاشعين (tidak sah/sempurna shalat kecuali atas orang-orang yang khusyu'), قد افلح المؤمنون الذين هم فى صلاتهم خاشعون (Sungguh beruntung orang yang beriman yang shalat mereka itu dalam keadaan khusyu');
2. Khudhu', artinya merendahkan diri dan menghinakan diri dihadapan Allah;
3. Hudhur, artinya hadir hatinya beserta Allah, tidak berpaling kepada sesuatu dalam shalatnya kecuali Allah di hatinya;
4. Ta'zhim, artinya membesarkan dan mengagungkan ذوالجلال والإكرام Allah yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan lagi yang mengetahui zahir dan batin serta memandang rahasia kita;
5. Haya, artinya malu kepada Allah karena terlalu sedikit menunaikan Hak Allah dengan sebenar-benar menunaikannya;
6. Khauf, artinya takut akan murka dan siksa Allah, takut tidak diterima amal ibadahnya karena merasa sangat banyak dosa dan sangat banyak melanggar larangannya;
7. Raja, artinya sangat mengharap rahmat dan ridha kepada Allah, serta mengharap ampunanNya dan mengharap semoga diterima amal ibadahnya;
8. Haibah, artinya gemetar dan takut akan sifat Qahar (kekeraran) Allah yang meliputi semua hambanya, karena terkadang ditolaknya amal kita sebab kurang adab kepadaNya, firman Allah وهو القاهر فوق عباده (Dan Allah yang mengerasi atas semua hambaNya);
9. Ikhlas, artinya bersih amal ibadah kita kepada Allah. Ikhlas inilah syarat didapatnya pahala dari segala amal, firman Allah واعبدوا الله مخلصين له الدين (Sembahlah Allah dalam hal keadaanmu itu ikhlas, bagiNya akan mengerjakan hal agama), وتَبَتّلْ اليه تَبْتِيْلا (dan ikhlaslah kamu kepada Allah dengan sesempurna ikhlas). Adapun makna ikhlas itu adalah benar niatnya kepada Allah dalam beribadah. Ikhlas itu terbagi kepada dua bagian : (1). اخلاص الأبرار , yaitu beribadah semata-mata menjunjung perintah Allah dan tidak ada tujuan lain selain Allah, seperti tujuan untuk mendapatkan syurga atau menjauhkan dari neraka. Dengan isyarat اياك نعبد (akan Engkau jua kami menyembah). Dinamakan amal orang yang اخلاص الأبرار itu عمل لله (amal karena Allah). (2). اخلاص المقربين , artinya ikhlas orang yang dekat kepada Allah, yaitu orang yang beramal yang tidak mengaku dan tidak merasa dengan usaha ikhtiarnya di dalam ma'rifatnya, hanya sanya amalnya itu dipandangnya semata-mata dengan diamalkan Allah dan taufiqNya, firman Allah الله خلقكم وما تعملون (Allah jua yang menjadikan kamu dan apa-apa yang kamu perbuat). Dan lagi mereka itu tidak merasa mempunyai daya dan upaya, seperti kata ulama tasauf الإخلاص هو التبرّئُ عن الحول والقوّةِ (Ikhlas itu adalah melepaskan diri daripada daya dan upaya, dengan isyarat اياك نستعين (akan Engkau kami minta pertolongan pada berbuat taat dan menjauhi maksiat). Dan dinamakan amal orang yang اخلاص المقربين itu عمل بالله (amal dengan pertolongan Allah);
10. تدبَّرٌ للقِراءةِ , memikirkan dan membicarakan bacaan yang dibaca dalam shalat (lagi akan datang makna bacaan itu insya Allah);
11. مناجاتٌ لله , berkata dan berhadapan dengan ruhnya dan sirnya bagi Allah, maka inilah sebesar-besar rahasia batin shalat.
Syahdan, hasilnya tatkala anda ketahui dan anda amalkan semua yang tersebut itu, maka tersisa bagimu tiga perkara yang merupakan penghulu dari semua yang tersebut itu :
1. Ikhlas dengan hatimu dan tetap dalam pandangan hatimu bahwa anda beribadah itu semata-mata karena taufiq Allah terhadap diri anda bukan karena daya dan upaya anda;
2. Tadabbur Lilqiraat, anda fikirkan dan anda ingatkan makna yang anda bacaan dalam shalat dengan ingatan fikiran anda, jangan mengingat dan memikirkan yang lain dari pada bacaan anda, sekalipun tentang syurga, neraka atau alam;
3. Munajat, artinya berkata-kata dan menyeru-nyeru Tuhanmu dengan ruh, rahasia dan ma'rifat anda, sampai anda merasakan فنا فى الله dan بقاء بالله di dalam shalatmu dan anda dapat قرّة العين (sejuk mata) dalam shalat karena mendapat kelezatan pandangan pada هال الله dan jalanNya seperti yang tersebut dalam Hadits Rasulullah saw حُبّبَ اليَّ من دنباكم ثلاث الطيْبُ والنساءُ وقرّةُ عينى فى الصلاة (Disukakan kepada aku daripada duniamu tiga perkara, yaitu harum-haruman, wanita dan sejuk mataku dalam shalat).
Semoga anda mendapatkan 10 faidah yang amat besar yang tertentu pada shalat, yaitu 10 perkara, yaitu shalat itu 1. menerangkan hati; 2. memberikan cahaya pada muka; 3. mendapatkan keredhaan Tuhan Rahman; 4. mendapatkan kemarahan syaitan; 5. menolakkan bala; 6. memadamkan kejahatan musuh; 7. memperbanyak Rahmat; 8. menghindarkan azab kubur dan azab akhirat; 9. mendekatkan hamba kepada Tuhannya; 10. mengindarkan dari segala yang keji dan munkar;
Dan mudah-mudahan anda mendapatkan 25 faidah dan fadhilat shalat yang 25 yang tersebut dalam Hadits Nabi saw : bahwa shalat itu 1. meredhakan bagi Tuhan kita Tabaraka wa Ta'ala; 2. dikasihkan segala malaikat; 3. jalan Anbiya dan Mursalin; 4. Nur Ma'rifat; 5. Usul Ma'rifat; 6. memperkenankan do'a; 7. sebab diterimanya amal yang lainnya; 8. jadi berkah pada rezki; 9. jadi kesenangan bagi badan; 10. jadi senjata terhadap musuh (satru); 11. membencikan syaitan; 12. mensyafaatkan antara orang yang shalat dan malakalmaut; 13. Qandil didalam kubur; 14. jadi hamparan dibawah lambungnya; 15. jadi dapat menjawab munkar dan nakir; 16. menjinakkan akan dia didalam kuburnya hingga hari kiyamat; 17. apabila hari kiyamat jadilah shalatnya itu dinding kepala (payung) dari panas matahari; 18. menjadi mahkota dikepalanya; 19. jadi pakaian atas badannya; 20. menjadi cahaya yang berjalan dihadapannya; 21. menjadi dinding dari api neraka; 22. menjadi hujjah bagi orang mukmin dihadapan Allah Azza wa Jalla; 23. memberatkan timbangan bagi kebajikan; 24. melalukan atas titian shiratalmustaqim; 25. membukakan pintu syurga, karena bahwasanya shalat itu ada didalamnya tasbih, taqdis, tahmid, ta'zhim, qiraat, do'a, munajat, ikhlas, tauhid, shalawat dan lain-lainnya, maka sesungguhnya yang terlebih afdhal amal sekaliannya yaitu shalat didalam waktunya.
NIAT DAN USHALLI
Diantara hal yg membuat lidah Wahabi gatal untuk mencela dan menghujat dari sebagian ibadah yg dianggap bid’ah (menurut mereka) adalah pelafalan Niyat sebelum shalat yg di sebut Ushalli. Baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu Niyat, dan Ushalli. Untuk melanjutkan pengetahuan dalam soal ini , bagi kita yg membutuhkan jawaban mari kita kupas dng seksama. Yg perlu diperhatikan bahwa:
1. Niat itu dalam Hati, bukan di baca(diucapkan)
2. Niyat itu mesti “muqoronah” yaitu serempak(berbarengan) dengan permulaan ibadat (shalat), tdk boleh terdahulu dan tdk boleh terkemudian, terkecuali ibadat puasa yg niyatnya boleh terdahulu, krn sulit dilakukan serempak.
3. Ibadat sembahyang(shalat) dimulai dng takbir, yaitu ucapan “Allaaahu akbar”. Maka niyat shalat itu harus dijalankan dlm hati pd ketika mengucap “Allaahu akbar” itu.
4. “Muqaranah” yakni serempak itu ada dua macam , yaitu:
a. Muqaranah haqiqiyah, yaitu serempak betul dng arti bahwa permulaan niyat itu benar2 pada ketika membaca “alif” dlm Allaahu akbar dan akhirnya setentang huruf “ra”, hal ini tersebab karena perkataan”Allaahu akbar” itulah permulaan shalat, dan niyat wajib bersama2 dng permulaan itu.
b. Muqaranah Urfiyah, yaitu tdk serempak betul, dng arti asal niat itu keseluruhannya terlintas hadir dlm hati pada ketika membaca Allaahu akbar sudah cukuplah.
5. Adalah sangat terlarang dan tdk sah shalat apabila hati kosong, tdk terpikir apa2 pada ketika membaca Allaahu akbar.

Setelah kita mengetahui apa dan maksud Niat maka kita bertanya apakah Ushalli itu? Maksud Ushali ialah melafalkan Niat(membaca niat) sesaat sebelum takbir artinya bahwa ushalli diluar shalat dan bukan shalat. Atau ada yg menyebut “Taalaffuzh binniyah”, yakni mengucapkan niat dengan lisan. Baik diperhatikan sungguh2 bahwa membaca ushalli itu bukan Niat, karena niat itu terletak pd hati bukan di lidah, dan membaca ushalli ini terdahulu sesaat sblm takbir di luar shalat, sedang niat dihadirkan dlm hati pada ketika mebaca takbir.
Jadi tidak cukup (tdk sah) kalau dlm shalat hanya membaca Ushalli saja tetapi tidak niat pd ketika takbir.
Dalam kitab2 fiqih madzhab Syafi’I keseluruhannya dikatakan bahwa membaca ushalli adalah Sunnah, berfaedah utk dikerjakan. Tersebut dlm kitab2 fiqh syafi’iyah :
1. Tersebut dlm kitab’Minhaj” karya Imam Nawawi seorang “mujtahid fatwa” .
“ Dan niat itu dalam hati, Sunnat mengucapkannya sebelum takbir(minhaj Bab SifatShalat)
2. Imam Ibnu Hajjar al Haitami(wafat:974) mengarang kitab “Tuhfah” : “ Dan sunnat mengucapkan apa yang diniatkan, sesaat sebelum takbir , guna lisan dpt menolong hati(dlm berniat), juga karena ada orang yg merwajibkan nya, dan pula dikiaskan kpd apa yg terjadi dlm mengerjakan haji.(Tuhfahtul Muhtaj, juz II hal:12)
3. Berkata Imam Ramli (wafat:1004H), pengarang kitab fiqih besar “Nihayatul Muhtaj” : “Sunnat mengucapkan yg diniatkan itu sesaat sblm takbir, guna supaya lidah dpt menolong hati, untuk menjauhkan was-was dan jangan terlalu jauh dari Ulama yg menfatwakan wajibnya(Nihayah juz I, hal.437)
4. Imam Khatib Syarbini (Wafat:997 H) beliau mengatakan dlm Mughni al Muntaj :” Dan sunnat mengucapkan apa yg diniatkan sesaat sblm takbir , supaya ucapan dpt menolong menyegerakan niat ke dalam hati dan juga untuk menjauhkan was-was.(Mughni juz I hal.150).
5. Tersebut dlm kitab fiqih “Fathul Wahhab” karya syaikhul Islam Zakariaa al Anshary (wafat: 926 H) ;” Dan sunnat juga mengucapkan apa yg diniatkan supaya bacaan bisa menolong hati.”(Fathul Waahhab jilid I hal.38)

Tanya - Jawab

1. Sabda Rosulullah :” Apabila engkau (hendak) berdiri sembahyang maka bertakbirlah (H.S.R. Bukhori dan Muslim)
Dalam hadits ini tdk disuruh , bahwa klo kita hendak sembahyang diperintahkan ber-ushalli lah atau bacalah niat, bagaimana ini?
Jawab:
Diakui , memang begitu, hadits ini tdk menyuruh ber”ushalli”, tapi juga tdk melarang ber”ushalli”’. Hadits ini hanya menyatakan “takbir”, klo hendak sembahyang bertakbirlah. Orang yg ushalli mematuhi juga Hadits ini, karena mereka sembahyang bertakbir juga. Dan pula, dlm hadits ini tidak disuruh berwudlu kalau akan melakukan shalat, tdk disuruh adzan dulu , tdk disuruh tegak berdiri dulu kalau hendak shalat, tdk disuruh meluruskan barisan dulu, tdk disuruh berjamaah, apaka kesemua ini akan dihentikan tersebab tdk ada suruhannya dlm hadits tersebut? Tidak. Suruhan membaca takbir adalah suruhan utk bertakbir, sementara utk yg lainnya ada pua suruhan yg lain.
2. Banyak tertulis dlm kitab2 karangan Ibnu Taimiyah, dlm kitabnya dikatakan bahwa seluruh Ulama2 Syafi’i telah bersalah dng menfatwakan bahwa membaca lafadz niat itu sunnat, sedang Nabi dan Shahabat tdk melakukan itu.
Jawab :
Untuk Jawaban ini terbagi 3 :
a. Ibnu Taimiyah bukanlah seorang Nabi. Ia hanyalah seorang Ulama saja, sama juga dengan Imam Nawawi, Imam Rafi’I, Imam Ibnu Hajr dan Imam Ramli.
Kalau Imam2 yang namanya tersebut terakhir bisa salah satu kali, Ibnu Taimiyah pun bisa salah sepuluh kali.
Yang menolak amalan Ushalli itu hanya Ibnu Taimiyah cs, Imam-imam yang empat tdk menolak Ushalli, begitu juga kebanyakan Ulama-ulama madzhab yang empat itu tdk menolak Ushalli.
b. Baik diketahui oleh Ibnu taimiyah dan pengikutnya, bahwa Ulama-ulama dalam madzhab Syafi’I tidak pernah menyuruh orang melafadzkan niat sembahyang, karena niat sembahyang itu terletak pada hati pada ketika membaca takbir , kalau niat itu dilafadzkan tentu bertumbukan dng lafadz takbir, tdk bisa jadi dua lafzd diucapkan sekaligus. Usholli itu-menurut madzhab Syafi’i-diucapkan sebelum takbir, bukan sedang takbir
c. Ibnu Taimiyah biasanya banyak fatwanya yg ganjil2 berbeda dengan fatwa2 ulama Islam yg lain.
3. Bahwa Nabi tidak pernah menyuruh baca Ushalli kalau akan sembahyang, klo ada coba kemukakan!
Jawab :
Nabi pun tidak pernah melarang orang ber-Ushalli, kalo ada haditsnya silahkan kemukakan!. Selain itu jangan dilupakan, bahwa masalah Ushalli ini adalah “maslah ijtihadiyah, bukan masalah Nash.
Ketahuilah, hukum-hukum agama itu ada yang berdasarkan Nash, firman Allah dan sabda Rosul, dan ada pula yang berdasarkan Ijtihad. Dalam fiqih masalah Ijtihad lebih banyak dari masalah Nash.
Jangan lupa pula masalah Ijtihad ini dibolehkan oleh Nabi, dan diamalkan oleh shahabat-shahabat Nabi dan oleh Ulama seluruh madzhab..
4. Dalam sebuah buku yg gatal membatalkan Ushalli, dikatakan bahwa riwayat Nabi menyebut niat Haji itu tdk sah. Walaupun ditaqdirkan sah, tidak boleh diqiyaskan pada sembahyang, karena haji itu Wajib atas orang Islam sesudah sembahyang..!
Jawab :
Dalam buku ini memakai istilah untuk hadits yang tidak sahih dengan istilah “tidak sah” . Ia tidak tahu antara tidak sah dengan tidak sahih jauh bedanya.
Lantas ia katakan, bahwa riwayat Nabi mengucapkan naiat haji tidak sah katanya.
Kita bertanya, apakah hadits Bukhori tidaj sah? Apkah hadits Bukhori yg mengatakan bahwa Nabi mengucapkan niat haji tdk sah? Kalau ia jawab “ya” maka ia sudah menentang kesepakatan Ummat Islam dari Masyriq ke Maghrib, yg berpendapat bahwa seluruh hadits Bukhori adalah sahih, yg mengatakan ada yang dhao’if dlm hadits Bukhori hanya kaum Orientalis yg tidak beragama Islam.
Siapa yg mengatakan, bahwa mengqiaskan ibadat sembahyang tidak boleh kepada haji? Apakah ada Allah dan Rosul-Nya mengatakan demikian?. Kita yakin bahwa Nabi Muhammad Saw, tidak pernah bersabda :
“Janganlah kamu mengqiyaskan ibadat sembahyang ke ibadat haji”.

DEMIKIAN TENTANG NIAT DAN USHALLI, BAHWA, USSHALLI BUKANLAH SHALAT KRN IA DILUAR SHALAT, HUKUMNYA HANYA SUNAT KARENA DLM USHUL FIQH ADA AQIDAH DITETAPKAN SESUDAH MEMPERHATIKAN DALIL DARIQUR’AN DAN HADITS, BERBUNYI:” JALAN2 YANG MENYAMPAIKAN KEPADA YANG DITUJU SAMA HUKUMNYA DENGAN YANG DITUJU ITU”
Wallahu a’lam…!




Petikan: Jelasnya sembahyang itu bermula dengan sebutan ``Allahuakbar'' ketika itulah niat perlu dilafazkan, iaitu dihadirkan dalam hati. Penyertaan niat, yang juga disebut sebagai ``muqaranah atau serentak itu ada dua jenis, muqaranah haqiqiyah iaitu serentak betul di mana permulaan niat itu dimulakan ketika lidah menyebut lafaz ``Allahuakbar'' dan berakhir pada perkataan ``bar''(pada akbar), juga muqaranah urfiyah iaitu tidak serentah betul itu asalkan niat itu pada keseluruhannya terlintas hadir dalam hati ketika membaca ``Allahuakbar''.



Bicara Agama

Lafaz Allahuakbar permulaan sembahyang
Bersama: dari. AMRAN KASIMIN
SOALAN: Pernah menjadi satu perbincangan hangat antara teman-teman selepas tamat membaca Yasin pada malam Jumaat mengenai suruhan Nabi apabila seseorang itu hendak sembahyang di mana dia hendaklah menghadap kiblat dan bertakbir. Keterangan ini membuktikan bahawa seseorang yang hendak sembahyang, ia tidak perlu niat.

Seperkara lain, saya sering berhadapan dengan masalah ketika berniat, di mana niat itu sukar sekali hendak dilakukan serentak dengan sebutan ``Allahuakhbar'', ketika takbiratulihram.

- Kassim, Pekan, Pahang

Jawapan:

Persoalan yang saudara kemukakan ada kaitan dengan sebuah hadis yang bermaksud: Apabila engkau mendirikan sembahyang, maka hendaklah engkau menyempurnakan wuduk, kemudian menghadap kiblat dan bertakbir.

Memang benar zahir hadis ini tidak menyebut secara khusus agar seseorang itu berniat dalam hati ketika memulakan sembahyang. Tetapi hadis ini juga tidak boleh dijadikan hujah membolehkan bahawa niat itu tidak perlu atau tidak wajib. Dalam hadis ini disebut jelas bahawa orang yang sembahyang hendaklah menghadap kiblat, tetapi ketika musafir baginda Rasulullah s.a.w. pernah bersembahyang sunat di atas kenderaannya menghadap ke mana-mana arah yang dituju oleh kenderaannya sama ada ke timur atau ke barat berdasarkan firman Allah seperti yang tersebut dalam surah al-Baqarah: 115 yang bermaksud: Di mana sahaja kamu menghadap, maka di sanalah wajah Allah. Apabila hendak melakukan sembahyang fardu, Baginda turun dari kenderaannya dan sembahyang dalam keadaan menghadap kiblat.

Kalaulah alasan sembahyang Rasulullah itu semata-mata berdasarkan kepada hadis di atas, tentunya Rasulullah tidak akan melakukan sembahyang sunat menurut hala arah kenderaan. Hadis di atas adalah umum, merangkumi sembahyang sunat dan wajib. Kerana itu persoalan tentang wajibnya niat itu perlu merujuk kepada alasan-alasan dari sumber yang lain.

Niat, dari segi bahasa bererti kasad, tujuan dan nazar. Menurut istilah syarak, niat bererti sengaja melakukan sesuatu yang disertakan dengan perbuatan. Kalau ia merujuk kepada sembahyang, niat hendaklah dilakukan pada permulaan sembahyang, iaitu ketika membaca lafaz ``Allahuakbar''.

Niat membezakan sama ada perlakuan yang dilakukan oleh seseorang itu menjadi adat/kebiasaan semata-mata ataupun ibadah. Orang yang duduk di masjid kerana berehat berbeza dengan orang yang beriktikaf. Niat dalam sembahyang adalah rukun. Bererti sembahyang tidak sah tanpa niat.

Ada tiga perkara penting yang perlu terkandung dalam niat iaitu kasad, taarud dan takyin. Kasad bererti sengaja melakukan sembahyang. Taarud ialah kenyataan tentang sifat sembahyang, sama ada fardu atau sunat. Manakala takyin pula ialah ketentuan sembahyang seperti sembahyang zuhur, aidilfitri, tarawih dan sebagainya. Perkara-perkara lain yang sunat disebut ialah tentang rakaat, tunai atau qada juga sebutan tentang kerana Allah Taala.

Dalam masyarakat Melayu, persoalan lain yang sering timbul ialah tentang sebutan ``usalli'', yang juga disebut sebagai ``talaffuz bi `dan-niyyat'', iaitu sebutan niat dengan lisan. Seperti yang diketahui, lafaz ini bukan niat kerana niat itu terletak pada hati, bukan di lidah. Bacaan ``usalli ini juga disebut sebelum takbir sedangkan niat sembahyang itu dibaca atau dihadirkan dalam hati ketika membaca takbir. Kerana itu memang tidak memadai andainya seseorang itu bersembahyang hanya dengan menyebut ``usalli'' (hingga akhirnya sebagai lazim) semata-mata tanpa disertai dengan niat dalam hati.

Menurut Imam An-Nawawi, hukum membaca ``usalli'' yang dibaca sebelum membaca Allahuakbar itu adalah sunat. Dilakukan demikian bertujuan agar lidah dapat membantu hati, untuk menjauhkan diri daripada timbulnya rasa waswas yang sering menganggu orang yang berniat. Demikianlah juga seperti yang dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin dalam Fathul Muin dalam bab Sifat Sembahyang, Syeikh al-Islam al-Ansari dalam Fathul Wahab, Imam Khatib Sarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj juga lain-lain imam Mazhab As-Shafie.

Yang dimaksudkan dengan waswas itu ialah keraguan yang dirasai oleh seseorang, sama ada seseorang itu telah sempurna berniat atau belum, menyebabkannya mungkin berniat berkali-kali ketika memulakan sembahyang. Namun demikian sekiranya bacaan ``usalli'' yang dibaca itu boleh menyebabkan waswas, menyebabkan rasa ragu, sama ada niatnya telah sempurna atau belum, maka ia boleh meninggalkan bacaan ``usalli'' (hingga akhir) kerana bacaan tersebut adalah sunat hukumnya, tidak berdosa kalau meninggalkannya dalam sembahyang tetap sah tanpanya. Demikian menurut pendapat mazhab As-Shafie.

Menurut sebuah hadis daripada Umar Ibn al-Khatab lah.a. ia berkata. saya telah mendengar Rasulullah berkata: Bahawasanya seluruh ibadah itu adalah dengan niat dan apa yang diperolehnya hanya yang diniatkan.

Hadis sahih ini menjelaskan bahawa semua amalan itu mesti disertakan dengan niat. Hadis ini adalah hadis perintah (amr), bukan khabar semata-mata. Mengenai sembahyang, ia mesti mempunyai niat iaitu yang disebut dalam hati, yang mengandungi kasad, taarud dan takyin. Tanpa niat amalan seseorang itu akan menjadi amalan biasa (adat) semata-mata, tidak diperkira sebagai ibadah. Merujuk kepada sembahyang, tanpa niat sembahyang tidak sah.

Allah s.w.t memerintahkan manusia itu agar beribadah. Perintah itu disebut sebagai amr (suruhan). Semua suruhan. Di antara ibadah yang melibatkan penyembahan Allah ialah sembahyang lima waktu. Kerana itu sembahyang itu adalah wajib hukumnya. Sembahyang (ibadah) itu hendaklah dilakukan semata-mata kerana Allah iaitu dalam keadaan ikhlas. Hal demikian membuktikan bahawa niat itu wajib dilakukan pada ibadah sembahyang. Dalam surah al-Bayyinah: 5 terdapat firman Allah yang bermaksud: Dan tidaklah mereka semua (manusia) itu diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan ikhlas dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Lurus di sini bermaksud jauh daripada syirik dan kesesatan.

Dalil lain membuktikan tentang wajibnya niat ialah ijmak ulama iaitu kata sepakat daripada imam-imam mujtahid yang hidup dalam satu zaman, dan tidak seorang pun daripada mereka yang membantah tentang wajibnya niat.

Apabila membicarakan tentang niat, persoalan yang timbul ialah ketika bila niat itu mesti dilafazkan. Kalau berniat sembahyang, adakah perlu dibaca/dihadirkan niat itu dalam hati serentak ketika lidah menyebut lafaz ``Allahuakbar'' atau adakah ia boleh dibaca terkemudian daripadanya. Seperti orang yang sedang hendak sembahyang maghrib adakah lafaz niat dalam hati itu (iaitu: Sahaja saya sembahyang fardu maghrib dua rakaat tunai kerana Allah Taala) mesti disertakan ketika lidah sedang melafazkan perkataan ``Allahuakbar''?

Niat sembahyang hendaklah dibaca serentak dengan permulaan ibadah. Tidak terdahulu atau terkemudian. Rasulullah ada bersabda yang bermaksud: Anak kunci sembahyang itu ialah bersuci dan pengharamnya ialah takbir, manakala penghalalnya ialah salam.

Hadis ini bermaksud bahawa sembahyang mesti dilakukan dalam keadaan suci iaitu berwuduk. Apabila seseorang itu telah bertakbir, haram baginya melakukan sesuatu yang sebelumnya halal. Dan apabila telah salam, maka perkara yang haram dilakukan ketika sembahyang menjadi halal iaitu boleh dilakukan semula.

Jelasnya sembahyang itu bermula dengan sebutan ``Allahuakbar'' ketika itulah niat perlu dilafazkan, iaitu dihadirkan dalam hati. Penyertaan niat, yang juga disebut sebagai ``muqaranah atau serentak itu ada dua jenis, muqaranah haqiqiyah iaitu serentak betul di mana permulaan niat itu dimulakan ketika lidah menyebut lafaz ``Allahuakbar'' dan berakhir pada perkataan ``bar''(pada akbar), juga muqaranah urfiyah iaitu tidak serentah betul itu asalkan niat itu pada keseluruhannya terlintas hadir dalam hati ketika membaca ``Allahuakbar''.

Adalah diakui bahawa sebutan ``muqaranah haqiqiah'' itu sukar dilakukan kerana itu sebutan atau menghadirkan niat dengan muqaranah urfiyah adalah memadai.

Perlu dijelaskan bahawa masalah niat yang disebut dalam hati seperti yang dijelaskan ini adalah merupakan masalah kepada sesetengah orang menyebabkannya mengulangi perbuatan niat yang akhirnya menjadi seumpama satu beban. Selain daripada menghilangkan rasa khusyuk, ia juga mengganggu makmum lain yang ada di sebelahnya sering berlaku, orang yang bermasalah ketika berniat ia juga menghadapi masalah ketika membaca Al-Fatihah iaitu pada huruf-huruf kesamaran.

Orang yang seperti ini juga adakalanya didatangi oleh pelbagai ingatan yang berlaku di luar sembahyang, yang baru berlaku atau yang telah lama berlaku, tetapi begitu menarik ketika berada di pejabat, di perjalanan atau memikiri bagaimana hendak mendapat wang bagi memenuhi keperluan anak-anak dan sebagainya.

Apabila penghayatan seseorang itu berlaku pada peristiwa-peristiwa di luar sembahyang, maka tumpuan terhadap Allah akan terhakis. Pemikiran seseorang tidak boleh tertumpu kepada Allah dan hal-hal keduniaan serentak ketika sembahyang. Bagi mereka yang berhadapan dengan masalah seperti ini sekiranya syarat wajib dan rukun dapat dipenuhi, maka sahlah sembahyang, namun oleh kerana ia tidak berupaya melakukan sembahyang dengan khusyuk, maka sembahyang yang dilakukan tidak akan memberi kesan pada diri, untuk membentuk manusia yang terhindar daripada kejahatan dan kemungkaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peserta Membludak, Panitia Audisi Tahfidz Al-Qur'an SDN 5 Masbagik Utara Tambah Ruang Audisi di Lapangan.

Sabtu, 20 Mei 2019 7:50 Panitia dan Peserta Tahfidz se Asean di sela audisi di SDN 5 Masbagik Utara Nibas, Sabtu (14/4/2019). - POS-P...